Dua Teknis UN Berbasis Komputer di Surabaya: Mandiri dan Gabung

Dua Teknis UN Berbasis Komputer di Surabaya: Mandiri dan Gabung

Dua Teknis UN Berbasis Komputer di Surabaya Mandiri dan Gabung

Ada dua teknis penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

di Kota Surabaya, yaitu Mandiri dan Gabung. Sekolah yang menyelenggarakan UNBK secara mandiri, berarti telah memenuhi semua persyaratan yang telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam penyelenggaraan UNBK, dan bisa mengadakan UNBK di sekolahnya sendiri. Sedangkan bagi sekolah yang belum memenuhi persyaratan sarana dan prasarana untuk UNBK, lokasi ujiannya bergabung dengan sekolah lain yang telah memenuhi persyaratan.

Dari total 254 SMA/SMK/MA di Surabaya, 245 sekolah menyelenggarakan UNBK

secara mandiri, sedangkan sisanya sebanyak 9 sekolah menyelenggarakan UNBK dengan bergabung di sekolah lain. SMA Hang Tuah 1 Surabaya menjadi salah satu sekolah penyelenggara UNBK secara mandiri, dengan menggunakan konsep satu atap, yaitu dengan menggunakan sumber daya dari sekolah lain yang sama-sama berada di bawah Yayasan Hang Tuah.
Kepala SMA Hang Tuah 1 Surabaya, Hadi Sukiyanto mengatakan, sebenarnya jumlah komputer di sekolahnya belum mencukupi untuk menyelenggarakan UNBK secara mandiri. Kemudian SMA Hang Tuah 1 meminjam komputer dari SMP Hang Tuah, dan memindahkannya ke SMA Hang Tuah 1 untuk digunakan dalam UNBK. “Sehingga di sini terpenuhi 160 komputer untuk 398 siswa (IPA dan IPS),” ujar Hadi di Gedung SMA Hang Tuah 1 Surabaya, Jawa Timur, Senin pagi (4/4/2016).

Dari 160 komputer tersebut, 140 digunakan dalam UNBK, sedangkan 20 komputer

sisanya digunakan sebagai cadangan. Penyelenggaraan UNBK di SMA Hang Tuah 1 Surabaya berlangsung di aula sekolah, yang dibagi menjadi tiga gelombang dalam satu hari. Setiap gelombang diikuti sekitar 140 siswa.
SMA Hang Tuah 1 Surabaya juga menyiapkan genset untuk mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik saat UNBK berlangsung. Proktor dan tenaga teknis untuk UNBK juga telah mengikuti pelatihan-pelatihan dalam mempersiapkan dan menyelenggarakan UNBK. “Ada juga paguyuban  proktor satu subrayon. Mereka sering ketemu sehingga kalau ada kesulitan dipecahkan bersama,” ujar Hadi.
Terkait persiapan proktor, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ihsan, mengatakan ia bergabung dengan proktor-proktor di Kota Surabaya dalam sebuah grup komunikasi yang menggunakan aplikasi di telepon selular. Melalui grup komunikasi itu, ia dapat melakukan pemantauan daring (online) secara langsung mengenai penyelenggaraan UNBK di seluruh Kota Surabaya. Selain itu ada grup komunikasi khusus juga untuk membahas masalah yang terjadi di lapangan. Sehingga persoalan yang ditemui di lapangan bisa cepat diketahui dan ditemukan solusinya agar siswa tidak dirugikan. Hal itulah yang menyebabkan ia tak bisa melepaskan telepon selular dari genggamannya.
Baca Juga :