(Tidak) Setiap Pagi

Table of Contents

(Tidak) Setiap Pagi

(Tidak) Setiap Pagi

Tidak setiap pagi kita bangun dengan kecupan sayang suami atau istri. Mungkin malam sebelumnya terjadi pertengkaran hebat, sehingga paginya masih dingin-cuek-dan agak malas untuk bicara.

Tidak setiap pagi kita bisa bangun malas-malasan sebentar, tanpa perlu ‘rush’ atau terburu-buru pergi ke kantor, ke sekolah, mengantar anak ke sekolah, ke tempat kuliah atau ke sekolah itu sendiri. Itu mungkin hanya terjadi di akhir pekan, hari libur, atau ketika cuti.

Tidak setiap pagi kita bisa bangun dan menikmati makan pagi di tempat tidur, buatan Mama, Kakak, Si Mbak, atau suami/istri tercinta.

Tidak setiap pagi kita bisa bangun dengan ceria, gembira, lalu menghirup kopi Starb*cks dan makan pagi di sana. Atau malah makan pagi di hotel berbintang lima.

Tidak setiap pagi kita bisa bangun dengan senyuman karena hujan mengguyur dan kita harus beraktivitas dan berhadapan dengan kemacetan, becek, harus bawa payung dan seterusnya. Mungkin seketika bangun yang keluar dari mulut hanyalah keluhan…

Namun…

Setiap pagi kita bisa bangun dengan ucapan syukur. Bahwa kita dianugerahi kehidupan yang dikaruniakan-Nya. Kita bisa berterima kasih pada-Nya atas kesehatan kita yang walaupun mungkin tengah dilanda pilek, batuk atau sedikit meriang, masih lebih baik ketimbang mereka yang terbaring di Rumah Sakit, tanpa daya, dililit selang infus dan harus menerima suntikan berkali-kali.

Setiap pagi kita bisa bercermin ketika gosok gigi, mempraktekkan apa yang diajarkan Ajahn Brahm sebagai senyum dua jari (meletakkan dua jari di sudut-sudut bibir dan mengawali hari dengan senyuman), memotivasi diri sendiri, dan berharap hari ini kita lalui dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Setiap pagi bisa merupakan suatu awal untuk bertekad dalam hati untuk menebar kasih, berbagi, mencintai Tuhan, sesama dan diri sendiri. Semakin peduli kepada sesama yang menderita dan berkekurangan.

Setiap pagi bisa menjadi hal yang positif untuk disambut atau hal yang negatif untuk dikeluhkan, adalah pilihan kita untuk membuatnya demikian.

Setiap pagi, tetaplah merupakan hari yang baru untuk mensyukuri, lepaskan iri, tinggalkan cemburu dan dendam. Bersyukur dengan makan pagi yang seolah ‘hanya’ roti, bubur ayam, bakmi abang-abang, siomay, ketoprak… Karena banyak yang tidak bisa makan pagi ini. Bersyukur naik bus, naik motor, apalagi naik mobil. Karena banyak yang tidak bisa jalan karena lumpuh dan harus mengandalkan kursi rodanya. Bersyukur untuk tiap detak jantung yang masih berbunyi, nafas yang masih teratur…. Karena berapa banyak orang sesak nafas dan harus pakai alat pacu jantung…Bersyukur untuk anak kita, suami kita, istri kita, orang tua kita, adik-kakak kita. Karena mereka adalah yang terbaik yang dikirimkan-Nya kepada kita, dengan ketidaksempurnaan mereka.

Baca Juga :